Arti dan Pengertian Taaruf Dalam Islam

Arti dan Pengertian Taaruf Dalam Islam

Posted on

Belakangan ini istilah taaruf sudah mulai sedikit banyak tersebar di kalangan masyarakat Indonesia, namun nampaknya banyak pula dari mereka yang tidak mengetahui arti dan pengertian taaruf dalam islam, karenanya saya coba menjelaskan mengenai pengertian taaruf atau arti taaruf sendiri dalam islam yang kita semua tahu arti taaruf berasal dari bahasa Arab.

Salah seorang pemuda berkata,

“Saya baru saja taaruf sama akhwat”

Pemuda lainnya menimpalinya,

“Bagaimana proses taarufnya? Apa saja yang dibicarakan di sana?”

Kurang lebih seperti itu penggunaan kalimat taaruf yang sering dipakai oleh banyak orang di Indonesia secara khusus. Bagi yang sudah paham arti dan pengertian taaruf dalam islam, pasti tidak akan asing lagi ya dalam memahami percakapan di atas, namun bagi yang belum paham, sebenarnya kita bisa memahaminya melalui makna yang tersirat dari percakapan tersebut, jika masih belum memahaminya pula, maka tetaplah di sini dengan terus menyimak artikel satu ini yang berbicara mengenai arti dan pengertian taaruf dalam islam.

Asal Kata Taaruf

Taaruf merupakan sebuah kata yang berasal dari bahasa Arab, diambil dari kata kerja تَعارَفَ – يَتَعارَفُ yang artinya berkenalan. Kalo dalam bahasa Inggris disebutnya Introducing kali ya,, pokoknya seperti itulah.

Kata taaruf sendiri disebutkan dalam Al-Quran surat Al-Hujurat, bunyinya:

Allah berfirman (yang artinya), “Hai manusia, sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari seorang pria dan seorang wanita, lalu menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal (ta’arofu)….” (Q.S. Al Hujurat: 13)

Dalam ayat tersebut kata ta’aruf datang dalam bentuk fi’il madhi dengan kata ganti mereka, sehingga jika diartikan adalah, “agar kalian saling mengenal”.

Kata ta’aruf yang tersebut dalam ayat di atas maknanya mutlak, artinya perkenalan antar bangsa tidak dikhususkan untuk laki-laki dengan perempuan semata , ataupun sebaliknya, prempuan dengan laki-laki, tapi sifatnya umum, laki-laki bisa berkenalan dengan laki-laki lain, begitu juga perempuan dengan perempuan.

Terlepas dari tafsiran taaruf pada ayat di atas, secara realita apabila kita menganalisa keadaan yang terjadi sesungguhnya, maka kita akan dapati bahwa makna taaruf dewasa ini khususnya yang terjadi di Indonesia lebih kepada perkenalan yang dilakukan antar laki-laki dengan perempuan, sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya yang lebih serius yaitu pernikahan.

Taaruf bukan berarti pacaran

Sayangnya masih banyak orang yang salah kaprah dalam memahami arti dan pengertian taaruf dalam islam, sehingga mereka memaknai kata taaruf yang sejatinya adalah berkenalan, tapi mereka menafsirkannya lebih jauh yaitu pacaran, dengan alasan agar bisa saling mengenal lebih dalam.

Taaruf bukan berarti pacaran ya sob. Kamu pasti tahu makna pacaran itu seperti apa. Jalan bareng, kirim pesan teks yang gak penting, teleponan untuk hanya sekedar bercanda atau saying-sayangan, dan masih banyak lagi modelnya. Taaruf bukanlah seperti itu, taaruf jika kita maknai kata ini dengan berkenalan sebelum melanjutkan ke tahap yang serius yaitu pernikahan, adalah dengan cara datang langsung ke orang tuanya untuk mengutarakan niat baik Anda sambil menanyakan secara detil segala hal yang menyangkut sifat, kesehatan, dan hal-hal lainnya yang ada pada diri seorang perempuan tersebut.

Taaruf bisa dilakukan berkali-kali sampai kamu merasa benar-benar cocok dengannya, taaruf tidak terbatas hanya satu kali. Kamu bisa mendatangi orang tuanya berkali-kali untuk menanyakan segala hal yang ada pada diri perempuan tersebut sambil membawa kado untuk orang tuanya misalnya. Jika kamu kurang puas dengan jawaban orang tuanya, kamu juga bisa mendatangi orang-orang terdekatnya, baik itu kakaknya, temannya, rekan kerjanya ataupun orang lain yang mengenalnya untuk menanyakan segala hal yang ada pada perempuan tersebut.

Singkatnya taaruf tidak bisa dilakukan secara langsung ke pihak yang bersangkutan, karena itu akan membuka pintu dan celah yang dapat dimasuki oleh setan yang tentunya dapat mengantarkanmu ke dalam masalah yang lebih besar lagi, yaitu pacaran dan paling parahnya zina.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:

“Andaikata kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (H.R. Ar-Ruyani dalam Musnad-nya No.1282, Ath-Thabrani 20/No. 486-487, dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 4544 dan disahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah No. 226)

Setelah kita mengetahui arti dan pengertian taaruf dalam islam yang sesungguhnya, sebagian dari kita mungkin akan berpikir dan berkata dalam hati,

“Jika memang demikian, maka ada kemungkinan besar beli kucing dalam karung dong?”.

Pernyataan seperti ini sangatlah wajar diucapkan jika didasari oleh penalaran dan logika kita. Namun yang perlu kita ketahui bersama bahwa terkadang terdapat poin-poin syariat yang tidak bisa dicerna oleh nalar dan logika kita, mengapa? Karena nalar dan logika kita amatlah dangkal untuk hanya sekedar kita bandingkan dengan syariat islam yang begitu sempurna ini.

Jika agama hanya menggunakan akal dan logika, pastinya banyak para ikhwan dan akhwat yang bercerai karena mereka menerapkan arti dan pengertian taaruf yang diajarkan oleh islam ini, tapi sebaliknya, kita dapati mereka memiliki hubungan yang sakinah mawaddah wa rohmah.

Jika agama hanya menggunakan akal dan logika, pastinya Stephen Hawking lah yang lebih beriman dan mengenal Allah karena kecerdasan IQ-nya, tapi yang terjadi justru dia lebih memilih untuk menjadi seorang ateis hanya karena dia mengedepankan logika dan imajinasinya.

Anyway, tetaplah berhusnuzhon kepada Allah dan mencoba sekuat tenaga untuk bisa menerima dengan ikhlas hal-hal yang tidak bisa dicerna dengan akal maupun logika sambil terus berdoa, berusaha beramal saleh dan senantiasa ridho atas ketetapannya.

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu).

Nah, itulah arti dan pengertian taaruf yang benar dalam islam. Semoga kita bisa mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi kamu yang sedang dalam proses taaruf dan ingin mencoba taaruf dalam bahasa Arab, kamu bisa langsung menuju artikel mengenai percakapan bahasa Arab tentang perkenalan atau taaruf.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *